Dekopinda Bondowoso Bidik Pembenahan Koperasi, dari Manajemen hingga Akses Pembiayaan
Mumbai
Ahmedabad
BONDOWOSO, Selafakta.id – Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Bondowoso mulai memetakan kondisi koperasi sebagai bagian dari upaya memperkuat kembali gerakan koperasi di daerah. Pembenahan tidak hanya menyasar koperasi yang baru terbentuk, tetapi juga koperasi lama yang saat ini memiliki kondisi beragam, mulai dari yang berkembang hingga yang berjalan tidak optimal.
Ketua Dekopinda Bondowoso Abdul Majid mengatakan, pemetaan tersebut penting untuk mengetahui persoalan yang dihadapi masing-masing koperasi. Sebab, tidak semua koperasi memiliki kondisi dan kebutuhan pengembangan yang sama.
“Kita pahami, kita perbaiki sistem, kita evaluasi kinerja dan kita identifikasi persoalan-persoalan yang ada di koperasi,” kata Abdul Majid seusai pengukuhan pengurus Dekopinda Bondowoso di Pendopo Bupati Bondowoso, Kamis (3/9/2026).
Menurut dia, kondisi koperasi di Bondowoso cukup beragam. Ada koperasi yang mampu berkembang dengan baik, ada yang hanya berjalan setengah-setengah, hingga koperasi yang kondisinya sudah seperti “mati suri”.
Karena itu, Dekopinda tidak ingin seluruh koperasi diberikan pola penanganan yang sama. Inventarisasi akan dilakukan untuk melihat persoalan sekaligus potensi yang masih dapat dikembangkan.
Pembenahan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari manajemen, sistem usaha, pelayanan kepada anggota hingga penguatan kapasitas pengurus. Dekopinda juga mendorong koperasi agar tidak lagi hanya berjalan dengan pola konvensional, melainkan mulai menyesuaikan diri dengan kebutuhan ekonomi masyarakat dan perkembangan pola usaha saat ini.
Di sisi lain, keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) juga menjadi bagian dari agenda penguatan koperasi di Bondowoso. Abdul Majid mengatakan, koperasi yang telah terbentuk perlu segera menjalankan kegiatan usaha agar tidak berhenti pada pembentukan struktur organisasi.
Pengurus dan manajer yang telah mendapatkan pelatihan diharapkan mampu mulai bergerak sesuai potensi dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
“Tujuan kita bagaimana KDMP yang sudah terwujud dan terbentuk di masing-masing desa, dengan adanya pengurus serta manajer-manajer yang sudah dilatih, supaya secepatnya bergerak,” ujarnya.
Dekopinda, lanjut Abdul Majid, menempatkan diri sebagai wadah akselerasi dan kolaborasi. Sejumlah persoalan yang muncul dalam pelaksanaan koperasi, termasuk persoalan regulasi, akan dikomunikasikan dengan pihak terkait agar tidak menghambat perkembangan koperasi. Namun, Dekopinda tidak mengambil alih kewenangan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan hukum maupun regulasi.
“Kita bantu mengkomunikasikan itu, artinya kita percepat jalannya,” katanya.
Penguatan koperasi juga dinilai penting di tengah maraknya penggunaan pinjaman online (pinjol) di masyarakat. Menurut Abdul Majid, koperasi harus mampu menawarkan alternatif pembiayaan yang lebih sehat sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai risiko penggunaan pinjol. Untuk mempercepat agenda tersebut, Dekopinda Bondowoso berencana menggelar rapat kerja pada pekan depan dan menyiapkan kegiatan bimbingan teknis pada Oktober-November 2026.